Sabtu, 09 Agustus 2014

Maaf,

Sudi.

Kata itu yang masih meragukanku untuk pulang kembali ke rumah. Ya, sudikah keluargaku menerima kedatanganku kembali. Menerima kehadiranku di lembar-lembar hidup mereka. Sedangkan aku dulu telah meninggalkan mereka, membuat mereka marah dan menderita. Mungkin juga telah membuat mereka benci kepadaku.

Aku tak tau lagi bagaimana mereka sekarang. Apakah mereka masih mengenangku? Merindukan kehadiranku? Ataukah mereka sudah melupakan bahkan membuang jauh-jauh diriku dari fikiran mereka? Kini aku sendiri, menyesali semua kisahku di masa lalu.

Aku seorang pelajar kala itu. Duduk di bangku SMA yang lumayan terkenal di Lamongan. Kedua orang tuaku menaruh harapan besar kepadaku untuk menyelesaikan pendidikanku sampai ke bangku kuliah. Orang tuaku tidaklah orang kaya, kehidupan kami pas-pasan. Sedangkan kami hanya tiga bersaudara. Mbak Ninun, aku sendiri dan dik Alif.

Ah, andai saja waktu itu aku tidak meninggalkan rumah. Tidak menuruti hawa nafsu belaka. Mungkin ceritanya akan lain. Mungkin aku akan menjadi seorang dokter yang sukses, seperti cita-citaku saat itu. Tapi sudahlah. Semua sudah berlalu.

*****

Suara adzan maghrib menghentikan langkahku. Tak jauh di depanku terlihat sebuah mushola yang sudah tua. Ingin segera aku labuhkan semua isi kalbuku. Semua jeritan hati yang meronta-ronta. Bergegas aku menuju rumah-Nya. Tempat melabuhkan rasa. Dan bergegas pula aku mengambil air wudhu. Membasu sebagian tubuhku,meleburkan dosa yang ku punya. Tanpa malu-mali ku ambil mukenaku, lalu duduk di barisan depan. Melantunkan bait-bait pujian seraya menunggu sang imam datang.

''Allah wujud, qidam , baqa'...''

Ya Allah, Engkaulah tuhanku. Engkaulah yang maha kekal. Ampuni hamba ya Rabb,,, Leburkan segala dosa yang hamba miliki. Dan berilah hamba petunjuk-Mu, apa yang harus hamba lakukan ya Allah. Hamba rindu pada keluarga hamba, pada bapak, pada ibu, mbak Ninun, dan dik Alif... Tapi hamba takut ya Allah...
Ya Rabbi,,berilah hamba kesabaran dan ketabahan hati...

'''Aliman, hayyan , sami'an, bashiiran, mutakalliman..''

*****

Telah kuputuskan bahwa aku akan pulang. Menemui keluargaku, siap siap bertemu dengan mereka. Dan siap jika mereka tak menerimaku. Karena aku tau , letak kesalahan ini ada padaku.

Beban yang menghuni hatiku kini hilang sudah. Yang ada hanya rasa rindu yang bergemuruh di dalam dada. Langkah kakikupun terasa ringan. Dan semangat untuk lekas bertemu keluargaku semakin mendidih. Sebentar lagi, ya sebentar lagi. Satu tikungan lagi adalah kampungku. Robbi,, jadikanlah secuil asa ini berkah yang tak terputuskan. Agar aku mampu menggapainya di awang-awang citaku.

******

Malam tak menyurutkan hasratku untuk segera pulang. Kembali ke peraduan yang tlah lama tak ku jamah. Aku tetap yakin pada keputusanku, bahwa aku harus pulang. Melabuhkan rindu pada keluargaku.

''Kiri bang!'' kataku pada tukang ojek yang memboncengku.
''Yang ijo neng?,, tanyanya.
''Iya bang, berapa?''
''Delapan ribu aja neng''
''Ini bang,makasih ya.''
''Sama-sama neng, permisi.''

Ah, rumahku masih sama seperti dulu, catnya berwarna hijau. Tapi agak terkelupas. Pohon buah jambu di depan rumahpun masih tetap berdiri kokoh. Juga pohon buah mangga di samping rumah , masih tetap bertengger di sana. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju pintu rumah. Sepi, sepertinya tak ada orang. Bahkan pintupun tertutup. Ya Allah mudah-mudahan ada orang. Batinku dalam hati.

''Assalamu'alaikum''
Tak ada jawaban dari dalam rumah.
''Assalamu'alaikum.'' Ku ucapkan sekali lagi salam. Tapi tetap sama, hening. Tak ada jawaban.
''Assalamu'alaikum.'' Dengan agak keras ku ucapkan sekali lagi.
''Wa'alaikum salam.'' Jawab seseorang dari dalam.
Suara laki-laki, besar dan berat. Dan pintupun terbuka. Ku lihat wajah seorang lelaki kira-kira berumur 19 tahun. Wajahnya tampan,sedikit berkumis dan tubuhnya kekar. Menelitiku mulai dari wajah hingga ujung kaki. Dia sepeetinya mendeteksiku, siapakah perempuan di hadapannya ini. Dan aku juga mengingat-ingat siapa orang di depanku ini.

''Mbak Ratih??!!'' Kata bocah itu setengah berteriak.
''Dik Alif??''
Akhirnya aku ingat kalau aku punya seorang adik laki-laki. Dan kita berduapun saling berpelukan, melepas rindu yang selama bertahun-tahun terpenjara dalam hati. Dan tak terasa butir bening inipun mengalir di pipiku. Ternyata masih ada orang yang ingat padaku dan merindukanku.
''Kamu sudah besar dik..''
''Iya mbak'' katanya sambil meregangkan pelukannya.
''Ibu mana?'' tanyaku kemudian.
''Ibu ada di dalam mbak, ayo mbak masuk.''
Ajak dik Alif seraya mengangkat koperku membawanya masuk ke dalam rumah. Dan aku mengikutinya dari belakang, mengekor kemana saja dia melangkah.

Ah, adikku yang dulu masih kecil, kini sudah besar tampan pula. Pasti banyak perempuan yang jatuh cinta padanya. Ternyata dik Alif membawaku ke dapur, di sana kulihat  ibu sedang memasak membuat rempeyek kesukaanku.
''Ibu..''
Ibu menoleh dan...
''Kau,,Ratih...??Anakku... Kamu sudah pulang nak....!! Kamu sudah kembali,, Ya Allah,,terima kasih Engkau telah mengabulkan doaku..'' Kata ibu seraya memelukku erat-erat. Air mata ini tak dapat ku tahan lagi. Tangisku semakin menjadi karena tahu bahwa ibu selalu mendo'akan kedatanganku.
Ya Allah, ampuni aku. Yang telah membuat hati ibuku terluka. Batinku dalam hati.
''Iya ibu,, Ratih sudah pulang,,Ratih sudah kembali. Ibu.. Ratih kangen sama ibu...hiks..hiks..''
''Iya nduk.. Ibu juga kangen sama kamu.''
Lalu ibu melepaskan pelukannya dan memandangiku.
''Kamu semakin cantik nduk memakai jilbab ini. Kamu juga sudah dewasa, sudah pantas berumah tangga.''

Ah, ibu. Hatimu sungguh mulia. Bukannya menanyakan apa saja yang kulakukan selama ini dan dari mana sajakah aku. Tapi malah menyuruhku menikah.
''Ibu,bapak kemana? Mbak Ninun juga kok ndak kelihatan?''
''Mbak Ninun ada di Bandung, ikut suaminya. Mbak mu sudah punya anak dua loh nduk'' jelas ibu padaku.
''Lho mbak Ninun sudah menikah? Sudah punya anak dua? Masya Allah, Ratih kok nggak tau ya bu?'' Tanyaku kaget.
''Iya, tapi mana mungkin to,,kami mengabarimu. Di sini ndak ada yang tau kamu di mana.'' kata ibu sambil mengajakku duduk. Sedangku hanya manggut-manggut saja. Membenarkan ucapannya.
''Le,,bapakmu di mana?'' tanya ibu pada dik Alif.
''Biasanya jam segini di warung bu.''
''Bapak masih senang pergi ke warung dik?''
Terlintas dalam benakku bayangan 8 tahun lalu tentang kebiasaan bapak yang suka pergi ke warung di malam hari. Ah, bapak masih tetap seperti dulu. Pikirku.
''Iya mbak, apalagi sejak mbak Ninun pergi,malah menjadi kebiasaan bapak. Soalnya ndak ada yang melarang mbak.'' Jelas dik Alif.
''Bu, kenapa ibu tidak melarang bapak pergi ke warung?'' tanyaku pada ibu.
''Halah nduk, kayak ndak tau watak bapakmu saja.'' jawab ibu sambil berdiri, meneruskan mengangkat rempeyek yang hangus.

******

Ku coba memejamkan mata, seraya merebahkan tubuh yang remuk kecapekan. Perlahan ku hirup aroma di kamarku. Bau yang selama ini ku rindukan, dan kamar yang slalu menggoda fikirku. Dan kini aku tlah berada di sini, di dalam kamarku yang telah bertahun-tahun ku biarkan. Kamar ini tetap sama, bentuk dan aromanya seperti dulu saat ku tinggalkan. Aku tak habis fikir, kenapa kamar ini tidak dibongkar atau dirubah. Aku teringat buku-bukuku, lalu aku bangun dari tidurku. Menuju almari. Ah, semua buku-bukuku sudah lenyap dari tempatnya. Bahkan buku hariankupun tak ada. Pasti mereka membuangnya, pikirku dalam hati.

''Mbak Ratih'' Panggil dik Alif dari luar.
Lalu kubuka pintu kamar yang hampir reyot itu.
''Ada apa dik?'' Tanyaku padanya.
''Mbak, Alif minta maaf kalau selama ini buku-buku mbak Ratih Alif pakai. Semua buku-buku mbak Ratih ada di kamar Alif.'' Jelas Alif padaku.
''Oh..dik Alif kok tau sih kalau mbak lagi mencari buku-buku mbak?'' Tanyaku heran.
''Iyalah mbak, Alif kan tau kalu mbak Ratih hobbynya sama buku.'' Gurau Alif.

Tiba-tiba aku ingat kalau aku punya oleh-oleh untuk keluargaku. Ya Allah hampir saja lupa.
''Dik,mbak punya oleh-oleh buat kamu dan ibu.'' Lalu kukeluarkan sebuah baju untuk dik Alif dan kebaya untuk ibu. Mudah-mudahan mereka suka.
''Woww,,,!! Bagus sekali mbak'' Teriak dik Alif kegirangan. Ku lihat ada kesenangan di wajah tampannya..
''Ibu,,, sini lihat.. Mbak ratih bawa oleh-oleh buat kita!''
Lalu ibu datang tergopoh-gopoh menghampiri kami.
''Ada apa to le,,?'' Tanya ibu setwlah sampai.
''Ini loh,,mbak Ratih bawain oleh-oleh buat ibu.'' Jelas dik Alif pada ibu yang semakin renta.
''Masya Allah,,Ratih. Bagus sekali kebaya ini. Terima kasih nduk.'' Kata ibu padaku.

Tok,,tok,,tok..
''Assalamu'alaikum...''
Kami semua terdiam. Ku lihat ada guratan kecemasan di wajah ibu. Aku tau, itu suara bapak.
''Wa'alaikum salam.'' Jawabku kemudian.
Ku langkahkan kakiku menuju pintu. Mencoba membukanya untuk bapak. Meski aku juga cemas, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ku lihat wajah bapakku, semakin tua saja beliau. Sama seperti kelakuan dik Alif tadi saat pertama kali bertemu denganku. Bapak juga demikian.
''Bapak...'' Kataku lirih seraya menjabat tangan bapak dan sungkem di hadapan beliau.
''Kamu siapa?'' Tanya beliau ramah. Ah, rupanya bapak tidak mengenaliku.
''Saya,,,saya Ratih pak'' jawabku terbata.
Tiba-tiba saja beliau menghentakkan tangan yang sedang ku pegang. Lalu masuk ke dalam rumah, tanpa mau menghirauku kembali. Aku hanya terdiam mematung, kaget atas sikap bapak padaku. Ya Allah,, apakah ini saatnya. Batinku dalam hati yang penuh tanya.

Ku lihat wajah ibu dan dik Alif, mereka juga hanya mampu mematung di sana, di depan kamarku. Dan aku tak tau kemana bapak pergi. Ya Allah apa yang harus hamba lakukan untuk meluluhkan hati bapak. Hamba tau hamba salah. Tapi hamba sudah mencoba memperbaiki diri ya Rabb,,.
''Sabar mbak,,bapak memang begitu. Susah memaafkan kesalahan orang lain.'' Kata dik Alif menenangkanku. Ku lihat wajahnya, sama seperti bapak waktu muda yang terpampang di foto. Tapi orang yang ada di depanku ini sangat lembut hatinya. Sedangkan bapak begitu keras.
''Sabar ya nduk..'' Kata ibu yang tiba-tiba ada di sampingku. Ah, ibu. Kalau bukan karena engkau mungkin aku sekarang sudah pergi lagi.
''Ibu, maafkan Ratih bu.. Selama ini Ratih selalu membuat ibu kecewa, malu dan menderita. Dik Alif maafin mbak ya,,mbak bukan menjadi kakak yang baik buat adik.'' Ucapku pada dua orang yang ada di depanku seraya terbata.
''Mbak, Alif sudah memaafkan kesalahan mbak Ratih sejak dulu. Alif malah kangen pengen ketemu mbak Ratih. Mbak jangan pergi lagi ya,,,''
''Nduk, sudahlah. Tak perlu menangis. Ini memang sudah takdirmu. Ibu sudah memaafkanmu nduk,,''
Ku peluk kedua orang ini. Tak ingin aku berpisah dari keduanya. Hanya merekalah yang mampu menjadi semangat hidupku yang kerdil dan kotor.
''Bu, Ratih harus menemui bapak. Ratih ingin meminta maaf bu,,''
''Tapi nduk...''
''Biarlah bu,, ini sudah keputusan Ratih sejak dulu. Mohon doanya bu...'' Pamitku pada ibu.
Dengan kecemasan yang meliputi ruang hatiku, ku bulatkan tekad untuk menemui bapak.
Ah, di mana bapak sekarang.

******

Ku lihat ada seorang lelaki yang duduk di halaman belakang sambil merokok. Pasti itu bapak, pikirku. Bergegas aku menuju tempat itu. Dan memang dia bapak.
''Bapak...'' Kataku mengawali.
Tak ada jawaban.
''Bapak,,Ratih mau minta_ ''
''Tak perlu.'' Kata bapak memotong ucapanku.
''Tapi pak Ratih.''
''Aku bilang tidak perlu!'' Kata bapak setengah berteriak.. Lalu terbatuk.
''Ratih tau Ratih bersalah pak... Ratih tau apa yang sudah Ratih lakukan itu tidak benar..''
''Bagus! Kalau kamu sudah tau.'' Potong bapak lagi.
''Pak,, Ratih mohon maafkan Ratih pak,,'' Lirihku pelan dengan isak yang tertahan.
''Sudah puas kamu mempermalukan keluarga ini! Sudah puas kamu mempermalukan bapakmu ini! Heh..'' Maki bapak padaku.
''Pak,,Ratih tidak bermaksud untuk..''
''Sudah. Aku tak mau mendengar alasanmu lagi. Pergilah.'' Perintah bapak padaku.
''Bapak,, Ratih mohon,,'' kataku terisak.
''Aku bilang pergi!!'' Geram bapak.
''Pak maafin Ratih,,,hiks,,hiks,,''
''Aku sudah bilang pergi! Aku tak mau melihatmu lagi! Pergi kau dari rumah ini..! Ini bukan rumah seorang pelacur sepertimu,,! Pergi..!!'' Usir bapak kepadaku.
Rasanya sakit,,hati ini mendengar kata itu. Tapi aku tak mau putus asa. Aku ingin bapak memaafkan aku.
''Pak,, maafkan Ratih pak..'' Kataku seraya sungkem pada bapak.

Plakkk,,!!

Au,, sakit,,,. Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku.
''Aku sudah bilang pergi! Pergi! Enyah kau dari sini!!'' Gertak bapak padaku sambil lalu.
Dengan memegang pipiku yang rasanya seperti terbakar api, aku tetap diam terduduk. Membiarkan bapak pergi begitu saja. Dan membiarkan bulir air mata ini menetes deras di wajah sepiku. Serta merasakan sakitnya hati yang tersayat oleh kata-kata bapak.
Ya Allah,, ampuni dosa hamba yang kotor ini. Ampuni dosa ibu, bapak dan dik Alif. Juga mabak Ninun ya Allah. Hamba tau ini semua kan terjadi, tapi hamba akan tetap berusaha memohon ampun beliau. Ya Allah meski hamba telah nista, kotor atas segala perbuatan hamba yang telah hamba lakukan di masa lalu. Tapi hamba mohon, kabulkan do'a hamba. Bukalah hati bapak ya Allah, berilah beliau kesehatan dan keselamatan. Jagalah beliau. Berilah hamba kemudahan dalam memohon ampun beliau.... Amiiinnn..

Lmg,201008
Savidapius.

1 komentar: