Rabu, 13 Agustus 2014

Hilang

Ingin ku buat nyanyian tentangmu
Tentang hati yang pernah terikat
Tentang rindu pada bayang-bayang
Tentang gelora nan membuncah
Dan tentang asa yang pernah terajut

Biar reda gulana ini
Yang menghuni sejak pagi memajang
Agar lelap hati ini
Dari lara yang menemani

Aku berlari dari imajinasimu
Lantas buatku jatuh pada lukamu

Bingungku pada geliat tubuhmu
Yang membakar asaku
Mengekor di tiap hela mataku
Entah apa jawabmu
Mengusik mozaik nan lampau
Pada sebuah senyum tak bermakna

Tak ingin ada namamu di sayap patah ini
Mencoba alihkan pada embun tak bersayap
Damai dalam kesendirian

Sabtu, 09 Agustus 2014

Maaf,

Sudi.

Kata itu yang masih meragukanku untuk pulang kembali ke rumah. Ya, sudikah keluargaku menerima kedatanganku kembali. Menerima kehadiranku di lembar-lembar hidup mereka. Sedangkan aku dulu telah meninggalkan mereka, membuat mereka marah dan menderita. Mungkin juga telah membuat mereka benci kepadaku.

Aku tak tau lagi bagaimana mereka sekarang. Apakah mereka masih mengenangku? Merindukan kehadiranku? Ataukah mereka sudah melupakan bahkan membuang jauh-jauh diriku dari fikiran mereka? Kini aku sendiri, menyesali semua kisahku di masa lalu.

Aku seorang pelajar kala itu. Duduk di bangku SMA yang lumayan terkenal di Lamongan. Kedua orang tuaku menaruh harapan besar kepadaku untuk menyelesaikan pendidikanku sampai ke bangku kuliah. Orang tuaku tidaklah orang kaya, kehidupan kami pas-pasan. Sedangkan kami hanya tiga bersaudara. Mbak Ninun, aku sendiri dan dik Alif.

Ah, andai saja waktu itu aku tidak meninggalkan rumah. Tidak menuruti hawa nafsu belaka. Mungkin ceritanya akan lain. Mungkin aku akan menjadi seorang dokter yang sukses, seperti cita-citaku saat itu. Tapi sudahlah. Semua sudah berlalu.

*****

Suara adzan maghrib menghentikan langkahku. Tak jauh di depanku terlihat sebuah mushola yang sudah tua. Ingin segera aku labuhkan semua isi kalbuku. Semua jeritan hati yang meronta-ronta. Bergegas aku menuju rumah-Nya. Tempat melabuhkan rasa. Dan bergegas pula aku mengambil air wudhu. Membasu sebagian tubuhku,meleburkan dosa yang ku punya. Tanpa malu-mali ku ambil mukenaku, lalu duduk di barisan depan. Melantunkan bait-bait pujian seraya menunggu sang imam datang.

''Allah wujud, qidam , baqa'...''

Ya Allah, Engkaulah tuhanku. Engkaulah yang maha kekal. Ampuni hamba ya Rabb,,, Leburkan segala dosa yang hamba miliki. Dan berilah hamba petunjuk-Mu, apa yang harus hamba lakukan ya Allah. Hamba rindu pada keluarga hamba, pada bapak, pada ibu, mbak Ninun, dan dik Alif... Tapi hamba takut ya Allah...
Ya Rabbi,,berilah hamba kesabaran dan ketabahan hati...

'''Aliman, hayyan , sami'an, bashiiran, mutakalliman..''

*****

Telah kuputuskan bahwa aku akan pulang. Menemui keluargaku, siap siap bertemu dengan mereka. Dan siap jika mereka tak menerimaku. Karena aku tau , letak kesalahan ini ada padaku.

Beban yang menghuni hatiku kini hilang sudah. Yang ada hanya rasa rindu yang bergemuruh di dalam dada. Langkah kakikupun terasa ringan. Dan semangat untuk lekas bertemu keluargaku semakin mendidih. Sebentar lagi, ya sebentar lagi. Satu tikungan lagi adalah kampungku. Robbi,, jadikanlah secuil asa ini berkah yang tak terputuskan. Agar aku mampu menggapainya di awang-awang citaku.

******

Malam tak menyurutkan hasratku untuk segera pulang. Kembali ke peraduan yang tlah lama tak ku jamah. Aku tetap yakin pada keputusanku, bahwa aku harus pulang. Melabuhkan rindu pada keluargaku.

''Kiri bang!'' kataku pada tukang ojek yang memboncengku.
''Yang ijo neng?,, tanyanya.
''Iya bang, berapa?''
''Delapan ribu aja neng''
''Ini bang,makasih ya.''
''Sama-sama neng, permisi.''

Ah, rumahku masih sama seperti dulu, catnya berwarna hijau. Tapi agak terkelupas. Pohon buah jambu di depan rumahpun masih tetap berdiri kokoh. Juga pohon buah mangga di samping rumah , masih tetap bertengger di sana. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju pintu rumah. Sepi, sepertinya tak ada orang. Bahkan pintupun tertutup. Ya Allah mudah-mudahan ada orang. Batinku dalam hati.

''Assalamu'alaikum''
Tak ada jawaban dari dalam rumah.
''Assalamu'alaikum.'' Ku ucapkan sekali lagi salam. Tapi tetap sama, hening. Tak ada jawaban.
''Assalamu'alaikum.'' Dengan agak keras ku ucapkan sekali lagi.
''Wa'alaikum salam.'' Jawab seseorang dari dalam.
Suara laki-laki, besar dan berat. Dan pintupun terbuka. Ku lihat wajah seorang lelaki kira-kira berumur 19 tahun. Wajahnya tampan,sedikit berkumis dan tubuhnya kekar. Menelitiku mulai dari wajah hingga ujung kaki. Dia sepeetinya mendeteksiku, siapakah perempuan di hadapannya ini. Dan aku juga mengingat-ingat siapa orang di depanku ini.

''Mbak Ratih??!!'' Kata bocah itu setengah berteriak.
''Dik Alif??''
Akhirnya aku ingat kalau aku punya seorang adik laki-laki. Dan kita berduapun saling berpelukan, melepas rindu yang selama bertahun-tahun terpenjara dalam hati. Dan tak terasa butir bening inipun mengalir di pipiku. Ternyata masih ada orang yang ingat padaku dan merindukanku.
''Kamu sudah besar dik..''
''Iya mbak'' katanya sambil meregangkan pelukannya.
''Ibu mana?'' tanyaku kemudian.
''Ibu ada di dalam mbak, ayo mbak masuk.''
Ajak dik Alif seraya mengangkat koperku membawanya masuk ke dalam rumah. Dan aku mengikutinya dari belakang, mengekor kemana saja dia melangkah.

Ah, adikku yang dulu masih kecil, kini sudah besar tampan pula. Pasti banyak perempuan yang jatuh cinta padanya. Ternyata dik Alif membawaku ke dapur, di sana kulihat  ibu sedang memasak membuat rempeyek kesukaanku.
''Ibu..''
Ibu menoleh dan...
''Kau,,Ratih...??Anakku... Kamu sudah pulang nak....!! Kamu sudah kembali,, Ya Allah,,terima kasih Engkau telah mengabulkan doaku..'' Kata ibu seraya memelukku erat-erat. Air mata ini tak dapat ku tahan lagi. Tangisku semakin menjadi karena tahu bahwa ibu selalu mendo'akan kedatanganku.
Ya Allah, ampuni aku. Yang telah membuat hati ibuku terluka. Batinku dalam hati.
''Iya ibu,, Ratih sudah pulang,,Ratih sudah kembali. Ibu.. Ratih kangen sama ibu...hiks..hiks..''
''Iya nduk.. Ibu juga kangen sama kamu.''
Lalu ibu melepaskan pelukannya dan memandangiku.
''Kamu semakin cantik nduk memakai jilbab ini. Kamu juga sudah dewasa, sudah pantas berumah tangga.''

Ah, ibu. Hatimu sungguh mulia. Bukannya menanyakan apa saja yang kulakukan selama ini dan dari mana sajakah aku. Tapi malah menyuruhku menikah.
''Ibu,bapak kemana? Mbak Ninun juga kok ndak kelihatan?''
''Mbak Ninun ada di Bandung, ikut suaminya. Mbak mu sudah punya anak dua loh nduk'' jelas ibu padaku.
''Lho mbak Ninun sudah menikah? Sudah punya anak dua? Masya Allah, Ratih kok nggak tau ya bu?'' Tanyaku kaget.
''Iya, tapi mana mungkin to,,kami mengabarimu. Di sini ndak ada yang tau kamu di mana.'' kata ibu sambil mengajakku duduk. Sedangku hanya manggut-manggut saja. Membenarkan ucapannya.
''Le,,bapakmu di mana?'' tanya ibu pada dik Alif.
''Biasanya jam segini di warung bu.''
''Bapak masih senang pergi ke warung dik?''
Terlintas dalam benakku bayangan 8 tahun lalu tentang kebiasaan bapak yang suka pergi ke warung di malam hari. Ah, bapak masih tetap seperti dulu. Pikirku.
''Iya mbak, apalagi sejak mbak Ninun pergi,malah menjadi kebiasaan bapak. Soalnya ndak ada yang melarang mbak.'' Jelas dik Alif.
''Bu, kenapa ibu tidak melarang bapak pergi ke warung?'' tanyaku pada ibu.
''Halah nduk, kayak ndak tau watak bapakmu saja.'' jawab ibu sambil berdiri, meneruskan mengangkat rempeyek yang hangus.

******

Ku coba memejamkan mata, seraya merebahkan tubuh yang remuk kecapekan. Perlahan ku hirup aroma di kamarku. Bau yang selama ini ku rindukan, dan kamar yang slalu menggoda fikirku. Dan kini aku tlah berada di sini, di dalam kamarku yang telah bertahun-tahun ku biarkan. Kamar ini tetap sama, bentuk dan aromanya seperti dulu saat ku tinggalkan. Aku tak habis fikir, kenapa kamar ini tidak dibongkar atau dirubah. Aku teringat buku-bukuku, lalu aku bangun dari tidurku. Menuju almari. Ah, semua buku-bukuku sudah lenyap dari tempatnya. Bahkan buku hariankupun tak ada. Pasti mereka membuangnya, pikirku dalam hati.

''Mbak Ratih'' Panggil dik Alif dari luar.
Lalu kubuka pintu kamar yang hampir reyot itu.
''Ada apa dik?'' Tanyaku padanya.
''Mbak, Alif minta maaf kalau selama ini buku-buku mbak Ratih Alif pakai. Semua buku-buku mbak Ratih ada di kamar Alif.'' Jelas Alif padaku.
''Oh..dik Alif kok tau sih kalau mbak lagi mencari buku-buku mbak?'' Tanyaku heran.
''Iyalah mbak, Alif kan tau kalu mbak Ratih hobbynya sama buku.'' Gurau Alif.

Tiba-tiba aku ingat kalau aku punya oleh-oleh untuk keluargaku. Ya Allah hampir saja lupa.
''Dik,mbak punya oleh-oleh buat kamu dan ibu.'' Lalu kukeluarkan sebuah baju untuk dik Alif dan kebaya untuk ibu. Mudah-mudahan mereka suka.
''Woww,,,!! Bagus sekali mbak'' Teriak dik Alif kegirangan. Ku lihat ada kesenangan di wajah tampannya..
''Ibu,,, sini lihat.. Mbak ratih bawa oleh-oleh buat kita!''
Lalu ibu datang tergopoh-gopoh menghampiri kami.
''Ada apa to le,,?'' Tanya ibu setwlah sampai.
''Ini loh,,mbak Ratih bawain oleh-oleh buat ibu.'' Jelas dik Alif pada ibu yang semakin renta.
''Masya Allah,,Ratih. Bagus sekali kebaya ini. Terima kasih nduk.'' Kata ibu padaku.

Tok,,tok,,tok..
''Assalamu'alaikum...''
Kami semua terdiam. Ku lihat ada guratan kecemasan di wajah ibu. Aku tau, itu suara bapak.
''Wa'alaikum salam.'' Jawabku kemudian.
Ku langkahkan kakiku menuju pintu. Mencoba membukanya untuk bapak. Meski aku juga cemas, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ku lihat wajah bapakku, semakin tua saja beliau. Sama seperti kelakuan dik Alif tadi saat pertama kali bertemu denganku. Bapak juga demikian.
''Bapak...'' Kataku lirih seraya menjabat tangan bapak dan sungkem di hadapan beliau.
''Kamu siapa?'' Tanya beliau ramah. Ah, rupanya bapak tidak mengenaliku.
''Saya,,,saya Ratih pak'' jawabku terbata.
Tiba-tiba saja beliau menghentakkan tangan yang sedang ku pegang. Lalu masuk ke dalam rumah, tanpa mau menghirauku kembali. Aku hanya terdiam mematung, kaget atas sikap bapak padaku. Ya Allah,, apakah ini saatnya. Batinku dalam hati yang penuh tanya.

Ku lihat wajah ibu dan dik Alif, mereka juga hanya mampu mematung di sana, di depan kamarku. Dan aku tak tau kemana bapak pergi. Ya Allah apa yang harus hamba lakukan untuk meluluhkan hati bapak. Hamba tau hamba salah. Tapi hamba sudah mencoba memperbaiki diri ya Rabb,,.
''Sabar mbak,,bapak memang begitu. Susah memaafkan kesalahan orang lain.'' Kata dik Alif menenangkanku. Ku lihat wajahnya, sama seperti bapak waktu muda yang terpampang di foto. Tapi orang yang ada di depanku ini sangat lembut hatinya. Sedangkan bapak begitu keras.
''Sabar ya nduk..'' Kata ibu yang tiba-tiba ada di sampingku. Ah, ibu. Kalau bukan karena engkau mungkin aku sekarang sudah pergi lagi.
''Ibu, maafkan Ratih bu.. Selama ini Ratih selalu membuat ibu kecewa, malu dan menderita. Dik Alif maafin mbak ya,,mbak bukan menjadi kakak yang baik buat adik.'' Ucapku pada dua orang yang ada di depanku seraya terbata.
''Mbak, Alif sudah memaafkan kesalahan mbak Ratih sejak dulu. Alif malah kangen pengen ketemu mbak Ratih. Mbak jangan pergi lagi ya,,,''
''Nduk, sudahlah. Tak perlu menangis. Ini memang sudah takdirmu. Ibu sudah memaafkanmu nduk,,''
Ku peluk kedua orang ini. Tak ingin aku berpisah dari keduanya. Hanya merekalah yang mampu menjadi semangat hidupku yang kerdil dan kotor.
''Bu, Ratih harus menemui bapak. Ratih ingin meminta maaf bu,,''
''Tapi nduk...''
''Biarlah bu,, ini sudah keputusan Ratih sejak dulu. Mohon doanya bu...'' Pamitku pada ibu.
Dengan kecemasan yang meliputi ruang hatiku, ku bulatkan tekad untuk menemui bapak.
Ah, di mana bapak sekarang.

******

Ku lihat ada seorang lelaki yang duduk di halaman belakang sambil merokok. Pasti itu bapak, pikirku. Bergegas aku menuju tempat itu. Dan memang dia bapak.
''Bapak...'' Kataku mengawali.
Tak ada jawaban.
''Bapak,,Ratih mau minta_ ''
''Tak perlu.'' Kata bapak memotong ucapanku.
''Tapi pak Ratih.''
''Aku bilang tidak perlu!'' Kata bapak setengah berteriak.. Lalu terbatuk.
''Ratih tau Ratih bersalah pak... Ratih tau apa yang sudah Ratih lakukan itu tidak benar..''
''Bagus! Kalau kamu sudah tau.'' Potong bapak lagi.
''Pak,, Ratih mohon maafkan Ratih pak,,'' Lirihku pelan dengan isak yang tertahan.
''Sudah puas kamu mempermalukan keluarga ini! Sudah puas kamu mempermalukan bapakmu ini! Heh..'' Maki bapak padaku.
''Pak,,Ratih tidak bermaksud untuk..''
''Sudah. Aku tak mau mendengar alasanmu lagi. Pergilah.'' Perintah bapak padaku.
''Bapak,, Ratih mohon,,'' kataku terisak.
''Aku bilang pergi!!'' Geram bapak.
''Pak maafin Ratih,,,hiks,,hiks,,''
''Aku sudah bilang pergi! Aku tak mau melihatmu lagi! Pergi kau dari rumah ini..! Ini bukan rumah seorang pelacur sepertimu,,! Pergi..!!'' Usir bapak kepadaku.
Rasanya sakit,,hati ini mendengar kata itu. Tapi aku tak mau putus asa. Aku ingin bapak memaafkan aku.
''Pak,, maafkan Ratih pak..'' Kataku seraya sungkem pada bapak.

Plakkk,,!!

Au,, sakit,,,. Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku.
''Aku sudah bilang pergi! Pergi! Enyah kau dari sini!!'' Gertak bapak padaku sambil lalu.
Dengan memegang pipiku yang rasanya seperti terbakar api, aku tetap diam terduduk. Membiarkan bapak pergi begitu saja. Dan membiarkan bulir air mata ini menetes deras di wajah sepiku. Serta merasakan sakitnya hati yang tersayat oleh kata-kata bapak.
Ya Allah,, ampuni dosa hamba yang kotor ini. Ampuni dosa ibu, bapak dan dik Alif. Juga mabak Ninun ya Allah. Hamba tau ini semua kan terjadi, tapi hamba akan tetap berusaha memohon ampun beliau. Ya Allah meski hamba telah nista, kotor atas segala perbuatan hamba yang telah hamba lakukan di masa lalu. Tapi hamba mohon, kabulkan do'a hamba. Bukalah hati bapak ya Allah, berilah beliau kesehatan dan keselamatan. Jagalah beliau. Berilah hamba kemudahan dalam memohon ampun beliau.... Amiiinnn..

Lmg,201008
Savidapius.

Selasa, 08 Juli 2014

Lentera Kedua

Lentera Kedua
Oleh; Savidapius

Pagi ini awal ku mulai legenda baru dalam hidupku. Menjadi pendamping baru bagi mas Hanan. Entah apa yang ku rasakan saat ini. Walau bahagia tak dapat ku elak, tapi gundah di kalbu ini masih bergelayut. Semua bercampur aduk menjadi satu,,

Ya Allah tenangkanlah hatiku ini untuk menuju surgaMu,,

Di ruang terpisah , aku menunggu ijab kabul yang sedang berlangsung. Sembari menahan semua rasa. Aku mencoba untuk menenangkan diri,.

''Saudara Hanan al Fatah,saya nikahkan saudara dengan Alyatus Shidqia binti Umar Hamzah dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai,,,''

''Saya terima nikahnya Alyatus Shidqia binti Umar Hamzah dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai..''

Sah,,,??

Saaaaahhhh,,,,...

Alhamdulillahirabbil'alamiin,,

Air mata ini tak dapat ku bendung, mengalir begitu saja. Antara rasa haru, bahagia, sedih dan iba menjadi satu. Ku hapus air mataku, tak ingin aku mengecewakan orang-orang di sini. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju ruang akad nikah, di mana mas Hanan sudah menungguku. Ya Allah,, mata ini rasanya tak sanggup menatap mata mas Hanan. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dada ini. Entah apa yang dirasakan mas Hanan saat ini, wajahnya begitu tenang. Tapi aku tau matanya kosong, tak ada cahaya itu. Yang selalu terpancar dari matanya saat dia menatapku dulu.

Ku cium tangan mas Hanan, sebagai tanda baktiku padanya. Ada rasa gugup yang menjalari tubuhku, ketika aku memegang tangannya. Tak berani aku menatap mata mas Hanan. Ku biarkan pandanganku sejenak mengapung di udara, melepas semua resahku.
 
***

Acara ijab qabul telah selesai, kini aku halal bagi mas Hanan. Aku masih di dalam kamar, ku lepas jilbabku. Kepalaku sedikit pusing, mungkin aku terlalu memikirkan pernikahan ini. Ku pijit-pijit kepalaku biar reda sakitnya.
Tiba-tiba mbak Alfi datang ke kamarku,, sedikit kaget aku dibuatnya.

''Kamu kenapa Al?'' Tanya mbak Alfi seraya memegang pundakku.

''Eh mbak,, cuma sedikit pusing mbak. Mungkin jilbabnya kekencengan kali mbak'' jawabku sedikit berbohong.

''Ya udah, sekarang kamu istirahat aja dulu. Biar mbak sama mas Hanan yang beres-beres di depan. Gak usah tegang Al,,'' Kata mbak Alfi sambil tersenyum meninggalkanku.

Ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang penuh bunga melati. Wangi bunga melati ini sedikit menenangkan hatiku. Ingin rasanya aku tidur sejenak, melepas penat. Tapi mataku ini rasanya tak ingin menutup mata. Anganku pun mulai mengembara,mengingat awal pertemuanku dengan mas Hanan.,, Ya Allah jika ini jalan yang Kau ridhai, aku berserah Padamu,,

***

Aku bekerja di panti waktu itu, menjadi relawan mengajari anak-anak mengaji. Hampir sepanjang hari aku berada di panti. Panti ini adalah hidupku, nafasku dan surgaku. Setiap satu bulan sekali kami mengadakan silaturrahmi dengan para donatur panti. Salah satunya adalah mbak Alfi,, dia sudah lama menjadi donatur panti. Dia sangat baik, santun, bijak bahkan menurutku wanita yang sempurna dan solehah. Kami menjadi akrab karena sering bertemu, bahkan Azza, putri mbak Alfi juga sudah akrab denganku.

Mbak Alfi mengundangku di acara pengajian di rumahnya. Di situlah aku diperkenalkan dengan mas Hanan.

Sosok mas Hanan begitu sempurna di mataku, dia laki-laki yang arif, penuh wibawa, santun dan penyayang. Awalnya kami agak kikuk kalau berbicara, tapi mbak Alfi selalu dapat mencairkan suasana.
Di mana setiap aku ada kegiatan di panti, sosok mas Hanan dan mbak Alfi ada di belakangku. Mereka mendukung semua kegiatanku. Begitupun sebaliknya.

Kedekatan kami bertiga bagai sebuah keluarga, penuh keharmonisan. Apalagi mbak Alfi kini sedang berbadan dua, duabelas minggu usia si jabang bayi. Aku dan mas Hanan menyambut dengan suka cita kehadiran calon anak kedua mbak Alfi. Senyum selalu terkembang di bibir mbak Alfi, dia begitu bahagia. Menanti kehadiran si buah hati di keluarganya.

Awalnya kehamilan mbak Alfi berjalan biasa saja. Namun di usia 14 minggu, mbak Alfi mulai terganggu kesehatannya. Dia sering mengeluh kesakitan di perutnya. Kini dia harus terbaring lemah, menahan rasa sakit.

Setiap hari aku menjenguk mbak Alfi, terkadang ikut merawat Azza. Kasihan gadis kecil itu, dia juga ikut merasakan sakit yang dirasa oleh bundanya.

Ku lihat mas Hanan juga begitu khawatir, dia bahkan jadi tak terurus. Aku merasa kasihan dengan mbak Alfi, akupun mulai mencoba memasak untuk mas Hanan dan Azza. Awalnya mbak Alfi merasa tak enak denganku, tapi kukatakan padanya bahwa aku tak apa-apa. Ini tak ada artinya dibanding kebaikan mbak Alfi dan mas Hanan padaku.
Aku juga mulai ikut bantu-bantu membersihkan rumah, mencuci pakaian, terkadang ikut menginap jika mbak Alfi yang memintanya. Tak ada niat apapun selain menolong mbak Alfi.

Keadaan mbak Alfi semakin memburuk, bahkan harus dirawat di rumah sakit. Dan dokter mengatakan kalau janin yang ada di perut mbak Alfi sudah tiada. Dia harus dioperasi, juga karena ada kanker di rahimnya. Ini sungguh sebuah pukulan hebat bagi mbak Alfi dan mas Hanan. Dia harus kehilangan calon anaknya, bahkan harapan untuk memiliki anak juga kandas,,,

Aku berusaha menguatkan mbak Alfi, menemaninya, dan menjaganya. Kini kami bagai saudara, segala duka kita rasakan bersama.

Hari ini mbak Alfi akan dioperasi, dia memberiku sebuah surat. Dia memintaku untuk membacanya di rumah. Ku peluk erat mbak Alfi, aku tak ingin ada perpisahan .Tangispun mendera kita berdua. Lalu ku antar mbak Alfi ke ruang operasi, kulihat ia tersenyum indah. Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk bagi kami,,,,

***

Aku terbangun dari tidurku, ah rupanya aku tertidur tadi. Sakit di kepalaku menghilang, aku pun bersiap untuk shalat ashar.

Aku, mas Hanan dan mbak Alfi berjama'ah shalat ashar. Sedikit canggung kurasa, kuatkan hambamu ini ya Rabb. Aku berserah padaMu, hidup matiku, jodohku ada pada kuasaMu .....

Selesai shalat kami bersantai di ruang keluarga. Seandainya aku boleh memilih, aku ingin berdiam diri saja di kamar. Ku lihat mbak Alfi tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya. Mas Hanan terlihat sibuk bermain dengan Azza, mereka tertawa bahagia. Ingin rasanya aku memutar waktu, tak ingin aku berada di posisi ini. Aku memang bahagia menjadi bagian keluarga ini, tapi tidak dengan seperti ini. Hati ini kembali meradang, apa yang harus aku lakukan. Aku takut menyakiti mbak Alfi, melukai Azza dan mengecewakan mas Hanan.

''Bunda Alya, ayo sini,,, main sama Azza..''Seru Azza padaku.

Aku terkejut dengan ucapan Azza barusan, dia memanggilku bunda. Aku merasa terharu dan bahagia, gadis kecil ini bisa menerima kehadiranku. Tapi aku tak bisa berbohong, aku tahu ada hati yang terluka olehku. Walau dia berusaha menutupi, tapi matanya tak dapat berbohong. Mbak Alfi , maafkan aku,,,
 
***

,, Untuk adikku Alya tersayang,,

Entah darimana mbak harus mengatakannya kepadamu ,, Sebelumnya terima kasih atas perhatian mu padaku selama ini. Atas kasih sayang yang kau curahkan padaku,, Tak ada yang dapat membalas kebaikanmu kecuali Allah.

Maaf mungkin mbak sudah menyusahkan kamu, mbak sudah menyita waktumu. Mbak juga minta maaf harus memintamu untuk menjaga Azza selama ini.

Alya, mbak tau mungkin ini sulit buatmu, tapi mbak punya satu permintaan buatmu. Mbak sudah membicarakan hal ini dengan mas Hanan, awalnya dia tidak setuju. Akan tetapi setelah mbak memberi pengertian akhirnya mas Hanan setuju.

Alya, mbak tak bermaksud merenggut kebahagiaanmu. Mbak juga tak bermaksud mengharuskanmu untuk menerima permintaan mbak. Tapi mbak percaya ini adalah yang terbaik untuk kita semua.

Alya, kamu tahu kan mbak tak kan bertahan lama mendampingi mas Hanan. Penyakit mbak ini sudah stadium 4, mbak dan mas Hanan sudah tau ini jauh sebelum mbak hamil. Tapi mbak juga tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang Allah berikan pada mbak. Mbak memilih mempertahankan kehamilan mbak,tapi Allah berkata lain.Mbak harus kehilangan calon anak mbak, juga sekarang mungkin rahim mbak pun akan diangkat.

Alya, maka dari itu mbak ingin menyiapkan segala sesuatunya sebelum mbak pergi. Mbak ingin kamu menjadi ibu untuk Azza, dan menjadi istri untuk mas Hanan. Alya, maukah kamu menerima permintaan mbak??

Mbak tau kamu adalah perempuan yang sabar, santun, rajin beribadah, taat kepada agama, dan insya Allah istri yang solehah. Itulah mengapa mbak memilih kamu, bukankah kamu pernah bercerita ingin punya suami yang seperti mas Hanan,,,??

Alya, pikirkanlah permintaan mbak ini. Dan tolong sampaikan salamku untuk ayah dan ibumu.

Kakakmu, Alfi,,
     
 ***

Mbak Alfi kini memang sudah membaik pasca operasi.Tapi  dia tetap menginginkan aku menjadi istri mas Hanan. Aku sudah mengatakan kalau aku tak ingin merusak rumah tangga mbak Alfi dan mas Hanan. Aku tak ingin kebaikanku disalah artikan, aku ikhlas membantunya. Tapi mbak Alfi bersikeras memintaku untuk menjadi istri mas Hanan.

Katanya, dia memang sudah membaik tapi kanker ini hanya tidur. Suatu saat akan bangun dan mengambil nyawanya. Dia tak ingin Azza mempunyai ibu tiri yang jahat, dan aku satu-satunya perempuan yang pantas menggantikannya untuk Azza.

Hatiku tersentuh, air mataku membasahi pipiku. Sungguh aku tak menyangka akan seperti ini jalan hidup yang harus ku lalui. Aku tak sanggup lagi menolak permintaan mbak Alfi. Berkali-kali ia memohon padaku, hatiku pun luluh dibuatnya.

''Mbak Alfi,, meskipun nanti Alya sudah menjadi istri mas Hanan. Alya ingin kita berdua sama-sama melayani mas Hanan, kita berbagi tugas bersama. Bukan berarti Alya istri muda, Alya mendapat perhatian lebih dari mas Hanan. Justru mbak yang harus mendapat kasih sayang lebih dari mas Hanan''

''Mas Hanan harus adil Alya, dia tak boleh membedakan kita berdua,,''

''Alya ikhlas mbak,,''
  
  ***

Dan pernikahan ini pun telah terjadi, aku dan mbak Alfi kini menjadi lentera untuk mas Hanan. Aku ingin keluarga ini tetap utuh, dan bersatu selamanya.

Lima bulanpun berlalu, kini aku telah mengandung anak pertamaku dengan mas Hanan. Mbak Alfi sangat bahagia mendengar kehamilanku, meskipun kini kesehatannya mulai menurun kembali. Apalagi kata dokter calon anakku ini insya Allah laki-laki. Mas Hanan juga bahagia atas kehamilanku, apalagi Azza yang tak sabar ingin punya adik.

Tapi kebahagiaan ini tak berlangsung lama , kami harus berduka. Kehilangan untuk yang kedua kalinya bagi mas Hanan, Azza dan aku. Kami begitu bersedih, aku tak menyangka ini saatnya. Harus ditinggalkan orang yang kita sayangi, dan menyayangi kita. Tapi kami memang harus sudah siap dengan ini semua. Hanya waktulah yang mengulurnya.

Mbak Alfi  sudah dua hari tak sadarkan diri, kami membawanya ke rumah sakit kemarin siang. Keadaan mbak Alfi memang sedikit membaik, tapi hari ini dia kritis. Kata dokter inilah saatnya.
Aku, mas Hanan dan Azza setia mendampingi mbak Alfi di saat terakhirnya. Ya Allah mudahkanlah perjalananya menuju sisimu,,,
Hingga mbak Alfi menghembuskan nafas terakhirnya, kami tetap di sisi mbak Alfi. Tangis ini tak dapat ku tahan , tatkala melihat tubuh kaku mbak Alfi. Bahkan mas Hanan pun menangis, hanya Azza yang kulihat tak menjatuhkan air mata. Ku peluk gadis kecil itu,, dia membalas memelukku.

''Bunda Alya,, bunda gak boleh nangis,,''

Aku tersentak mendengar ucapan gadis kecil di hadapanku ini. Tangan mungilnya mengusap mataku.

''Azza nggak sedih di tinggal bunda Alfi pergi??'' Akupun tak kuasa menanyakan hal ini padanya, tapi ketegarannya membuatku penasaran. Anak sekecil ini tak meneteskan air matanya atas kepergian ibunya.

''Kata bunda Alfi,, nanti kalau bunda pergi Azza gak boleh sedih. Karena bunda akan bertemu Allah, bunda akan ke surga dan menunggu kita semua di sana. Jadi nanti Azza akan bertemu bunda lagi kalau Azza jadi anak baik, kan anak baik pasti masuk surga,,''

Ya Allah aku tersentuh dengan kata-kata Azza, mbak Alfi memang ibu yang hebat dia sudah mempersiapkan ini semua. Dia tak ingin anaknya bersedih atas kepergiannya.. Ku lihat wajah mbak Alfi tidur dalam senyum.

,,,, Untuk kakakku Alfi,,,

Selamat jalan kak. Semoga engkau tenang disana , dan mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aku yakin surga telah menunggumu. Kami disini akan selalu mengingatmu, walaupun kau telah pergi tapi lenteramu akan tetap menerangi hatiku, Azza dan mas Hanan. Tersenyumlah mbak, Azza memang anak yang solehah. Aku yakin dia akan tumbuh dewasa seperti ibunya,,,

Mbak aku sudah memenuhi permintaanmu, kini izinkan aku untuk memberikan nama Alif jika nanti anakku lahir,,,

Selamat jalan mbak Alfi,, tidurlah dalam senyummu.....

...Sby,080714....

Minggu, 15 Juni 2014

Kantuk

Mata ini lelah merayumu
Menyapa tiap pandang
Lelap ini
Tak dapat ku hirau
Pada nafas memabukkan
Yang Melayang
Di ruang  mimpi

Dan,,
Ketika mimpi mulai terbit
Pada esok tak berjanji
Hantarkan asa
Tak berarti
Dengkur kian bersuara
Dan kaki
Yang memeluk
Selimut semu
Erat tak berhenti

Sby,150614

Sabtu, 14 Juni 2014

rahasia hati


Rahasia hati
Tak pernah kan tau
Yang terdalam
Mengusik pilu
Menghuni kadar yang membusa
Dalam episode
Suatu reaksi
Seakan melayang
Ke suatu arah
Tancapkan
Panah-panah fatamorgana
Memilah
Di antara reruntuhan
Yang paling
Rahasia
Dalam seketika
Mimpi




Sby,200210

gurun kerinduan


Ragaku berdesir pada nafasmu
Mengekor pada ruh yang berkidung ria
Jemari gemulai memainkan rasa
Mengajak sukmaku menggeliat
Di tengah oase malam

Aku keronta di gurun kerinduan
Memenggal separuh jiwaku
Aku layu berteman kaktus-kaktus tua
Mengharap setetes embun
Di tengah sahara waktu



Lmg,070109

Lepas

Ingin ku labuhkan hidup ini
Mengalir apa adanya
Seperti sungai yang tak kan habis
Walau kemarau tiba
Ku tau hidup tak kan berhenti
Menuju muara yang abadi
Seperti sungai pada laut
Antara tawar dan asin
Dapat menyatu dalam damai

Mencoba alirkan rasa
Pada angin dan air
Biar lepas gundah ini
Hanyut
Mengalir apa adanya
Sepertimu

Sby,010614