Lentera Kedua
Oleh; Savidapius
Pagi ini awal ku mulai legenda baru dalam hidupku. Menjadi pendamping baru bagi mas Hanan. Entah apa yang ku rasakan saat ini. Walau bahagia tak dapat ku elak, tapi gundah di kalbu ini masih bergelayut. Semua bercampur aduk menjadi satu,,
Ya Allah tenangkanlah hatiku ini untuk menuju surgaMu,,
Di ruang terpisah , aku menunggu ijab kabul yang sedang berlangsung. Sembari menahan semua rasa. Aku mencoba untuk menenangkan diri,.
''Saudara Hanan al Fatah,saya nikahkan saudara dengan Alyatus Shidqia binti Umar Hamzah dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai,,,''
''Saya terima nikahnya Alyatus Shidqia binti Umar Hamzah dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai..''
Sah,,,??
Saaaaahhhh,,,,...
Alhamdulillahirabbil'alamiin,,
Air mata ini tak dapat ku bendung, mengalir begitu saja. Antara rasa haru, bahagia, sedih dan iba menjadi satu. Ku hapus air mataku, tak ingin aku mengecewakan orang-orang di sini. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju ruang akad nikah, di mana mas Hanan sudah menungguku. Ya Allah,, mata ini rasanya tak sanggup menatap mata mas Hanan. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dada ini. Entah apa yang dirasakan mas Hanan saat ini, wajahnya begitu tenang. Tapi aku tau matanya kosong, tak ada cahaya itu. Yang selalu terpancar dari matanya saat dia menatapku dulu.
Ku cium tangan mas Hanan, sebagai tanda baktiku padanya. Ada rasa gugup yang menjalari tubuhku, ketika aku memegang tangannya. Tak berani aku menatap mata mas Hanan. Ku biarkan pandanganku sejenak mengapung di udara, melepas semua resahku.
***
Acara ijab qabul telah selesai, kini aku halal bagi mas Hanan. Aku masih di dalam kamar, ku lepas jilbabku. Kepalaku sedikit pusing, mungkin aku terlalu memikirkan pernikahan ini. Ku pijit-pijit kepalaku biar reda sakitnya.
Tiba-tiba mbak Alfi datang ke kamarku,, sedikit kaget aku dibuatnya.
''Kamu kenapa Al?'' Tanya mbak Alfi seraya memegang pundakku.
''Eh mbak,, cuma sedikit pusing mbak. Mungkin jilbabnya kekencengan kali mbak'' jawabku sedikit berbohong.
''Ya udah, sekarang kamu istirahat aja dulu. Biar mbak sama mas Hanan yang beres-beres di depan. Gak usah tegang Al,,'' Kata mbak Alfi sambil tersenyum meninggalkanku.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang penuh bunga melati. Wangi bunga melati ini sedikit menenangkan hatiku. Ingin rasanya aku tidur sejenak, melepas penat. Tapi mataku ini rasanya tak ingin menutup mata. Anganku pun mulai mengembara,mengingat awal pertemuanku dengan mas Hanan.,, Ya Allah jika ini jalan yang Kau ridhai, aku berserah Padamu,,
***
Aku bekerja di panti waktu itu, menjadi relawan mengajari anak-anak mengaji. Hampir sepanjang hari aku berada di panti. Panti ini adalah hidupku, nafasku dan surgaku. Setiap satu bulan sekali kami mengadakan silaturrahmi dengan para donatur panti. Salah satunya adalah mbak Alfi,, dia sudah lama menjadi donatur panti. Dia sangat baik, santun, bijak bahkan menurutku wanita yang sempurna dan solehah. Kami menjadi akrab karena sering bertemu, bahkan Azza, putri mbak Alfi juga sudah akrab denganku.
Mbak Alfi mengundangku di acara pengajian di rumahnya. Di situlah aku diperkenalkan dengan mas Hanan.
Sosok mas Hanan begitu sempurna di mataku, dia laki-laki yang arif, penuh wibawa, santun dan penyayang. Awalnya kami agak kikuk kalau berbicara, tapi mbak Alfi selalu dapat mencairkan suasana.
Di mana setiap aku ada kegiatan di panti, sosok mas Hanan dan mbak Alfi ada di belakangku. Mereka mendukung semua kegiatanku. Begitupun sebaliknya.
Kedekatan kami bertiga bagai sebuah keluarga, penuh keharmonisan. Apalagi mbak Alfi kini sedang berbadan dua, duabelas minggu usia si jabang bayi. Aku dan mas Hanan menyambut dengan suka cita kehadiran calon anak kedua mbak Alfi. Senyum selalu terkembang di bibir mbak Alfi, dia begitu bahagia. Menanti kehadiran si buah hati di keluarganya.
Awalnya kehamilan mbak Alfi berjalan biasa saja. Namun di usia 14 minggu, mbak Alfi mulai terganggu kesehatannya. Dia sering mengeluh kesakitan di perutnya. Kini dia harus terbaring lemah, menahan rasa sakit.
Setiap hari aku menjenguk mbak Alfi, terkadang ikut merawat Azza. Kasihan gadis kecil itu, dia juga ikut merasakan sakit yang dirasa oleh bundanya.
Ku lihat mas Hanan juga begitu khawatir, dia bahkan jadi tak terurus. Aku merasa kasihan dengan mbak Alfi, akupun mulai mencoba memasak untuk mas Hanan dan Azza. Awalnya mbak Alfi merasa tak enak denganku, tapi kukatakan padanya bahwa aku tak apa-apa. Ini tak ada artinya dibanding kebaikan mbak Alfi dan mas Hanan padaku.
Aku juga mulai ikut bantu-bantu membersihkan rumah, mencuci pakaian, terkadang ikut menginap jika mbak Alfi yang memintanya. Tak ada niat apapun selain menolong mbak Alfi.
Keadaan mbak Alfi semakin memburuk, bahkan harus dirawat di rumah sakit. Dan dokter mengatakan kalau janin yang ada di perut mbak Alfi sudah tiada. Dia harus dioperasi, juga karena ada kanker di rahimnya. Ini sungguh sebuah pukulan hebat bagi mbak Alfi dan mas Hanan. Dia harus kehilangan calon anaknya, bahkan harapan untuk memiliki anak juga kandas,,,
Aku berusaha menguatkan mbak Alfi, menemaninya, dan menjaganya. Kini kami bagai saudara, segala duka kita rasakan bersama.
Hari ini mbak Alfi akan dioperasi, dia memberiku sebuah surat. Dia memintaku untuk membacanya di rumah. Ku peluk erat mbak Alfi, aku tak ingin ada perpisahan .Tangispun mendera kita berdua. Lalu ku antar mbak Alfi ke ruang operasi, kulihat ia tersenyum indah. Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk bagi kami,,,,
***
Aku terbangun dari tidurku, ah rupanya aku tertidur tadi. Sakit di kepalaku menghilang, aku pun bersiap untuk shalat ashar.
Aku, mas Hanan dan mbak Alfi berjama'ah shalat ashar. Sedikit canggung kurasa, kuatkan hambamu ini ya Rabb. Aku berserah padaMu, hidup matiku, jodohku ada pada kuasaMu .....
Selesai shalat kami bersantai di ruang keluarga. Seandainya aku boleh memilih, aku ingin berdiam diri saja di kamar. Ku lihat mbak Alfi tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya. Mas Hanan terlihat sibuk bermain dengan Azza, mereka tertawa bahagia. Ingin rasanya aku memutar waktu, tak ingin aku berada di posisi ini. Aku memang bahagia menjadi bagian keluarga ini, tapi tidak dengan seperti ini. Hati ini kembali meradang, apa yang harus aku lakukan. Aku takut menyakiti mbak Alfi, melukai Azza dan mengecewakan mas Hanan.
''Bunda Alya, ayo sini,,, main sama Azza..''Seru Azza padaku.
Aku terkejut dengan ucapan Azza barusan, dia memanggilku bunda. Aku merasa terharu dan bahagia, gadis kecil ini bisa menerima kehadiranku. Tapi aku tak bisa berbohong, aku tahu ada hati yang terluka olehku. Walau dia berusaha menutupi, tapi matanya tak dapat berbohong. Mbak Alfi , maafkan aku,,,
***
,, Untuk adikku Alya tersayang,,
Entah darimana mbak harus mengatakannya kepadamu ,, Sebelumnya terima kasih atas perhatian mu padaku selama ini. Atas kasih sayang yang kau curahkan padaku,, Tak ada yang dapat membalas kebaikanmu kecuali Allah.
Maaf mungkin mbak sudah menyusahkan kamu, mbak sudah menyita waktumu. Mbak juga minta maaf harus memintamu untuk menjaga Azza selama ini.
Alya, mbak tau mungkin ini sulit buatmu, tapi mbak punya satu permintaan buatmu. Mbak sudah membicarakan hal ini dengan mas Hanan, awalnya dia tidak setuju. Akan tetapi setelah mbak memberi pengertian akhirnya mas Hanan setuju.
Alya, mbak tak bermaksud merenggut kebahagiaanmu. Mbak juga tak bermaksud mengharuskanmu untuk menerima permintaan mbak. Tapi mbak percaya ini adalah yang terbaik untuk kita semua.
Alya, kamu tahu kan mbak tak kan bertahan lama mendampingi mas Hanan. Penyakit mbak ini sudah stadium 4, mbak dan mas Hanan sudah tau ini jauh sebelum mbak hamil. Tapi mbak juga tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang Allah berikan pada mbak. Mbak memilih mempertahankan kehamilan mbak,tapi Allah berkata lain.Mbak harus kehilangan calon anak mbak, juga sekarang mungkin rahim mbak pun akan diangkat.
Alya, maka dari itu mbak ingin menyiapkan segala sesuatunya sebelum mbak pergi. Mbak ingin kamu menjadi ibu untuk Azza, dan menjadi istri untuk mas Hanan. Alya, maukah kamu menerima permintaan mbak??
Mbak tau kamu adalah perempuan yang sabar, santun, rajin beribadah, taat kepada agama, dan insya Allah istri yang solehah. Itulah mengapa mbak memilih kamu, bukankah kamu pernah bercerita ingin punya suami yang seperti mas Hanan,,,??
Alya, pikirkanlah permintaan mbak ini. Dan tolong sampaikan salamku untuk ayah dan ibumu.
Kakakmu, Alfi,,
***
Mbak Alfi kini memang sudah membaik pasca operasi.Tapi dia tetap menginginkan aku menjadi istri mas Hanan. Aku sudah mengatakan kalau aku tak ingin merusak rumah tangga mbak Alfi dan mas Hanan. Aku tak ingin kebaikanku disalah artikan, aku ikhlas membantunya. Tapi mbak Alfi bersikeras memintaku untuk menjadi istri mas Hanan.
Katanya, dia memang sudah membaik tapi kanker ini hanya tidur. Suatu saat akan bangun dan mengambil nyawanya. Dia tak ingin Azza mempunyai ibu tiri yang jahat, dan aku satu-satunya perempuan yang pantas menggantikannya untuk Azza.
Hatiku tersentuh, air mataku membasahi pipiku. Sungguh aku tak menyangka akan seperti ini jalan hidup yang harus ku lalui. Aku tak sanggup lagi menolak permintaan mbak Alfi. Berkali-kali ia memohon padaku, hatiku pun luluh dibuatnya.
''Mbak Alfi,, meskipun nanti Alya sudah menjadi istri mas Hanan. Alya ingin kita berdua sama-sama melayani mas Hanan, kita berbagi tugas bersama. Bukan berarti Alya istri muda, Alya mendapat perhatian lebih dari mas Hanan. Justru mbak yang harus mendapat kasih sayang lebih dari mas Hanan''
''Mas Hanan harus adil Alya, dia tak boleh membedakan kita berdua,,''
''Alya ikhlas mbak,,''
***
Dan pernikahan ini pun telah terjadi, aku dan mbak Alfi kini menjadi lentera untuk mas Hanan. Aku ingin keluarga ini tetap utuh, dan bersatu selamanya.
Lima bulanpun berlalu, kini aku telah mengandung anak pertamaku dengan mas Hanan. Mbak Alfi sangat bahagia mendengar kehamilanku, meskipun kini kesehatannya mulai menurun kembali. Apalagi kata dokter calon anakku ini insya Allah laki-laki. Mas Hanan juga bahagia atas kehamilanku, apalagi Azza yang tak sabar ingin punya adik.
Tapi kebahagiaan ini tak berlangsung lama , kami harus berduka. Kehilangan untuk yang kedua kalinya bagi mas Hanan, Azza dan aku. Kami begitu bersedih, aku tak menyangka ini saatnya. Harus ditinggalkan orang yang kita sayangi, dan menyayangi kita. Tapi kami memang harus sudah siap dengan ini semua. Hanya waktulah yang mengulurnya.
Mbak Alfi sudah dua hari tak sadarkan diri, kami membawanya ke rumah sakit kemarin siang. Keadaan mbak Alfi memang sedikit membaik, tapi hari ini dia kritis. Kata dokter inilah saatnya.
Aku, mas Hanan dan Azza setia mendampingi mbak Alfi di saat terakhirnya. Ya Allah mudahkanlah perjalananya menuju sisimu,,,
Hingga mbak Alfi menghembuskan nafas terakhirnya, kami tetap di sisi mbak Alfi. Tangis ini tak dapat ku tahan , tatkala melihat tubuh kaku mbak Alfi. Bahkan mas Hanan pun menangis, hanya Azza yang kulihat tak menjatuhkan air mata. Ku peluk gadis kecil itu,, dia membalas memelukku.
''Bunda Alya,, bunda gak boleh nangis,,''
Aku tersentak mendengar ucapan gadis kecil di hadapanku ini. Tangan mungilnya mengusap mataku.
''Azza nggak sedih di tinggal bunda Alfi pergi??'' Akupun tak kuasa menanyakan hal ini padanya, tapi ketegarannya membuatku penasaran. Anak sekecil ini tak meneteskan air matanya atas kepergian ibunya.
''Kata bunda Alfi,, nanti kalau bunda pergi Azza gak boleh sedih. Karena bunda akan bertemu Allah, bunda akan ke surga dan menunggu kita semua di sana. Jadi nanti Azza akan bertemu bunda lagi kalau Azza jadi anak baik, kan anak baik pasti masuk surga,,''
Ya Allah aku tersentuh dengan kata-kata Azza, mbak Alfi memang ibu yang hebat dia sudah mempersiapkan ini semua. Dia tak ingin anaknya bersedih atas kepergiannya.. Ku lihat wajah mbak Alfi tidur dalam senyum.
,,,, Untuk kakakku Alfi,,,
Selamat jalan kak. Semoga engkau tenang disana , dan mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aku yakin surga telah menunggumu. Kami disini akan selalu mengingatmu, walaupun kau telah pergi tapi lenteramu akan tetap menerangi hatiku, Azza dan mas Hanan. Tersenyumlah mbak, Azza memang anak yang solehah. Aku yakin dia akan tumbuh dewasa seperti ibunya,,,
Mbak aku sudah memenuhi permintaanmu, kini izinkan aku untuk memberikan nama Alif jika nanti anakku lahir,,,
Selamat jalan mbak Alfi,, tidurlah dalam senyummu.....
...Sby,080714....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar